Search
KATA TERKINI

Kebijakan Pengalihan Peserta JKN Dipertanyakan, Pemkot Samarinda Angkat Suara

Pesta Gol di Segiri! Borneo FC Bantai PSBS 5-1, Tekanan ke Persib Makin Panas

Disorot Publik, Seno Aji Tegaskan Anggaran Rumah Jabatan untuk Kepentingan Pelayanan

Agus Aras Tekankan Peran Keluarga Hadapi Tantangan Sosial Lewat Sosialisasi Perda

Agus Aras Tekankan Pentingnya Partisipasi Publik dalam Pengambilan Kebijakan Daerah

Kebijakan Pengalihan Peserta JKN Dipertanyakan, Pemkot Samarinda Angkat Suara

Pesta Gol di Segiri! Borneo FC Bantai PSBS 5-1, Tekanan ke Persib Makin Panas

Disorot Publik, Seno Aji Tegaskan Anggaran Rumah Jabatan untuk Kepentingan Pelayanan

Agus Aras Tekankan Peran Keluarga Hadapi Tantangan Sosial Lewat Sosialisasi Perda

Agus Aras Tekankan Pentingnya Partisipasi Publik dalam Pengambilan Kebijakan Daerah

Formasi Kesebelasan Bapak Bangsa Indonesia

Foto ; Internet
Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Print

PERKATA.IDSAMARINDA. Bediri hingga merdekanya bangsa Indonesia tidak lepas dari tangan dingin dan perjuangan tokoh-tokoh bangsa. Kegigihan para pahlawan dalam memperjuangan hak kemerdekaan berbuah keberhasilan yang saat ini harus dijaga bersama seluruh rakyat Indonesia.

Sederat nama besar tokoh perjuangan bangsa turut serta dalam menciptakan rasa kebebasan bak tim sepakbola yang bereuforia merayakan kemenangan. Masing-masing tokoh perjuangan bangsa memiliki peran diposisinya sendiri, mulai dari kiper hingga striker haus gol, ibarat gol yang tercipta dimasa injury time.

Berikut formasi sederat tohoh bangsa di masing-masing posisi :

  1. Kiper

Ada nama Raden Mas Tirto Adi Soerjo, beliau adalah generasi awal para nasionalis. Posisi kiper merupakan posisi yang sunyi dan Tirto memang mengalami kesunyian dalam masa akhir hidupnya. Tirto nyaris tidak akan dikenal dalam sejarah kita andai saja Pramodya Ananta Toer tak menghidupkannya kembali melalui tetralogi baru. Tirto adalah orang pertama yang menggunakan surat kabar sebagai alat propaganda dan pembentuk pendapat umum. Dia juga berani menulis kecaman-kecaman pedas terhadap pemerintahan kolonial Belanda pada masa itu. Akhirnya Tirto ditangkap dan disingkirkan dari Pulau Jawa dan dibuang ke Pulau Bacan, dekat Halmahera (Provinsi Maluku Utara). Setelah selesai masa pembuangannya, Tirto kembali ke Batavia, dan meninggal dunia pada 7 Desember 1981.

  1. Bek Tengah

HOS Tjokroaminoto berada diposisi bek tengah dari tiga bek kiri dan kanan. Dengan senioritasnya Tjokro menjadi defender/libero yang diharapkan bisa mengendalikan setidaknya dua muridnya yang sangat agresif dan penuh syahwat perlawanan yakni Sukarno dan Musso. Tjokroaminoto adalah salah satu pelopor pergerakan di Indonesia dan sebagai guru para pemimpin-pemimpin besar di Indonesia. Berangkat dari pemikirannya pula yang melahirkan berbagai macam ideologi bangsa Indonesia pada saat itu. Rumahnya sempat dijadikan rumah kost para pemimpin besar untuk menimbah ilmu padanya, yaitu Samaoen, Alimin, Muso, Suekarno, Sekarmadji, Maridjan Kartosoewi bahkan Tan Malaka pernah berguru padanya. Ia adalah orang yang pertama kali menolak urjontuk tunduk pada Belanda.

  1. Bek Kanan

Tjiptomangoenkosoemo, berada diposisi bek kanan Tjipto bersama Ki Hajar dan Douwes Dekker merupakan salah satu triumvirat pendiri Indische Partij (IP) organisasi modern (tidak sempat disahkan pemerintah) pertama yang sudah menggunakan kata Indische sebagai nama organisasi. Keberaniannya sangat penting bagi seorang bek tengah yang dimomen-momen darurat mesti melakukan segala cara untuk membendung serangan lawan.

  1. Bek Kiri

Douwes Dekker seorang peranakan dengan darah Belanda mengalir ditubuhnya Douwes bisa diandalkan sebagai inisiator serangan dari lini belakang. Dia berperan meradikalisasi pergerakan nasional yang sebelum ide Indische Partij direalisasikan masih belum jelas merumuskan konsep kewarganegaraan Hindia. IP kemudian memperkenalkan konsep “Hindia untuk orang Hindia” (tanpa memperdulikan suku atau keturunan). Selain itu ia adalah salah seorang peletak dasar nasioonlisme Indonesia di awal abad ke 20, penulis yang kritis terhadap kebijakan pemerintah penjajahan Hindia Belanda, Wartawan, Aktivis politik, serta penggagas nama “Nusantara” sebagai nama untuk Hindia Belanda yang merdeka. Setiabudi adalah salah satu dari “Tiga Serangkai” pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia, selain dr. Tjipto mangoenkosoemodan Suwardi Suryaningrat.

  1. Gelandang Serang Kiri

Tan Malaka, pasca proklamasi Tan menjadi simbol perjuangan tanpa kompromi, simbol dari apa yang disebut sebagai “Revolusi Nasional”. Ia adalah alternatif dari triumvirat Soekarno-Hatta-Sjahrir yang bagi beberapa kalangan dianggap kelewat lembek dan kompromis.

Sosok yag amat disegani oleh Soekarno-Hatta dan Sjahrir ini juga ikut menyiapkan konsep Indonesia modern dengan tulisan-tulisan visionernya, seperti Naar de Republik Indonesia. Sebagai gelandang serang , ia adalah pemasok semangat yang tiada habis dan pengumpan revolusi yang tiada banding.

  1. Gelandang Serang Kanan Soetan Sjahrir

Dialah yang termuda dari triumvirat Bung (Karno, Hatta, Sjahrir). Saat berusia 36 tahun, pada November 1945, dia sudah menjadi Perdana Menteri di bulan-bulan paling krusial kemerdekaan Indonesia. Bukan tugas yang mudah karena alat kelengkapan sebuah negara masih jauh dari lengkap, birokrasi masih belum jalan, uang tidak ada, angkatan perang masih tercerai-berai, sementara ancaman kembalinya Belanda benar-benar di depan mata.

Dialah “sekondan” Tan Malaka dalam hal menentukan arah perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Jika Tan memilih cara revolusi sosial melalui metode perlawanan bersenjata, Sjahrir memilih cara-cara yang lebih moderat dan mengedepankan diplomasi dalam berususan dengan Belanda.

Jika Tan adalah gelandang serang yang agresif dan tiada habis mengirimkan umpan revolusi ke lini depan (walau Sukarno-Hatta di lini depan tidak bisa mengkonversi umpan revolusionernya), Sjahrir adalah gelandang serang yang bisa mengimbangi politik revolusioner Tan dengan sikap tenang, dingin dan rasional dalam membaca medan permainan politik. Dia paham bahwa menghadapi lawan yang kuat seperti Belanda yang mempraktikkan total-football dengan kelengkapan amunisi yang lebih lengkap, Indonesia butuh sikap moderat dan sesekali perlu men-delay permainan melalui diplomasi.

  1. Gelandang Bertahan Soedirman

Dialah satu-satunya pengecualian, tokoh yang baru muncul pasca proklamasi yang bisa masuk daftar Kesebelasan Para Bapak Bangsa. Dia sosok penting yang mustahil diabaikan dalam epos perjuangan kemerdekaan. Namanya masuk juga untuk mengakomodasi debat klasik dalam sejarah Indonesia. Kemerdekaan itu hasil diplomasi atau perlawanan bersenjata. Sulit membayangkan sejarah kemerdekaan Indonesia tanpa peran menghitung peranan angkatan perang. Dan untuk itulah nama Soedirman masuk.

Namanya masuk sebagai wakil dari sederet nama-nama penting yang ikut menjaga kemerdekaan Indonesia yang baru seumur jagung usianya dari penetrasi Belanda yang ingin kembali menduduki Indonesia melalui kekuatan senjata. Anggaplah dia Gelandang Pengangkut Air, walau pada praktiknya dia yang justru pernah diangkat-angkat oleh tandu dalam perang gerilya. Dialah yang menambal lubang garis belakang pertahanan Indonesia saat Sukarno-Hatta-Salim memilih “menyerah” untuk ditangkap Belanda dalam Agresi Militer II.

  1. Wingbeck Kiri Musso

Masuk dalam daftar sebagai wakil dari Partai Komunis Indonesia (PKI). Sejarah “resmi” boleh menghitam-hitam PKI, tapi bagaimana bisa membaca sejarah Indonesia tanpa menyebut PKI? Nyatanya, PKI-lah organ pertama yang resmi menggunakan nama “Indonesia”. PKI juga organisasi pergerakan modern satu-satunya yang secara resmi pernah menyatakan perlawanan bersenjata terhadap kolonialisme Hindia Belanda — saat organisasi lain masih “malu-malu” untuk berkata TIDAK dengan sekeras-kerasnya.

Musso adalah orang paling keras kepala yang menginginkan PKI tetap hidup walau kader-kadernya banyak yang terbunuh atau dibuang ke Diguel pasca perlawanan bersenjata yang gagal pada 1926. Lewat gerakan bawah tanah, dia terus menghidupkan sel-sel PKI. Nama Musso jadi berjelaga dalam sejarah “resmi” karena inisiatifnya pada peristiwa Madiun 1948. Tapi peristiwa itu harus dibaca sebagai sebuah tafsir alternatif tentang bagaimana sebaiknya kemerdekaan diisi, bagaimana perjuangan kemerdekaan sebaiknya diarahkan serta dengan ideologi apa Indonesia modern sebaiknya dijalankan.

Dengan tipikalnya yang keras kepala dan sukar dikendalikan, koppig dalam bahasa Belanda, juga latar belakang sebagai seorang komunis tulen (kadang disebut Stalinis) Musso barangkali kami pasang sebagai wingback kiri. Dia diharapkan bisa menggedor pertahanan lawan secara terus menerus dan keras kepala. Sebagai pejuang yang bolak-balik Eropa (Moskow) dan Indonesia, dia diharapkan bisa kuat melakukan gerakan urang-alik dari depan untuk menyerang dan kembali ke belakang untuk ikut bertahan

  1. Wingbeck Kanan Agoes Salim

Tokoh luar biasa cerdas ini mewakili faksi Islam dalam sejarah pergerakan nasional (dan itulah sebabnya dia menempati posisi wingback kanan). Bersama Abdoel Moeis, dia berhasil menendang “faksi kiri” dari tubuh SI. Berkat konflik internal inilah akhirnya faksi kiri (biasa disebut SI Merah) akhirnya memisahkan diri dan kemudian akhirnya menjadi PKI. Dia pembela paling cerdas dari nasionalisme Indonesia dalam sidang-sidang Volksraad.

Sebagai tokoh paling berpengalaman dari semua nama yang masuk daftar (dia sudah aktif sejak awal abad 20 dan masih sempat membantu diplomasi pasca proklamasi), Agus Salim amat layak menempati posisi wingback kanan karena peranannya sebagai guru dari nama-nama penting dari kelompok Islam dalam sejarah politik Indonesia, seperti Natsir, Roem hingga Kasman Singodimedjo (tokoh-tokoh Masjumi), saat menjadi “mentor” melalui Jong Islamieten Bond.

Sebagai tokoh Islam dengan pandangan yang progresif, dia cocok menjadi wingback kanan. Rajin mendobrak pertahanan lawan, sebagaimana dia getol mendobrak kejumudan berpikir seperti saat merobek pembatas yang memisahkan ruangan perempuan dan laki-laki. Tapi ketakwaan dan pengetahuannya yang dalam di bidang agama, cocok untuk terus mengingatkan banyak orang bahwa agresifitas perlu diimbangi oleh ingatan yang kuat tentang latar/lini belakang: iman, religiusitas dan spirit beragama yang progresif.

  1. Penyerang Mohammad Hatta

Dalam skema duet kembar di lini depan, Hatta mendampingi Sukarno. Dia tokoh terpenting metode perjuangan non-kooperasi di era pergerakan nasoinal. Jika ada nama yang sejak awal sudah sadar pentingnya memikirkan dan menyiapkan konsep ekonomi bagi kemerdekaan Indonesia kelak, dia pula orangnya.

Seiring mendekati waktu proklamasi, posisinya semakin penting karena dia mewakili banyak hal yang tidak terwakili oleh Sukarno: luar Jawa, dianggap sebagai sosok muslim yang taat, dan yang terpenting sanggup menandingi birahi nasionalisme Sukarno yang kelewat menggelegak. Dia pula yang mencoba memastikan (dalam sidang BPUPKI dan PPPKI) nasionalisme dan negara Indonesia tidak tampil dalam wajah yang agresif dan ekspansif dengan mendesak dimasukkannya hak warga negara dan menolak gagasan dimasukkannya Malaya ke dalam wilayah Indonesia, bahkan ikut men-delay gagasan memasukkan Papua ke dalam wilayah Indonesia.

Di masa-masa “akurnya” dengan Sukarno, dialah supporting tiada banding bagi Sukarno sebagai ujung tombak. Saat Sukarno sibuk dengan gerakan-gerakan cepat lewat orasi-orasi yang membakar, Hatta yang terus mengerjakan tugas-tugas administratur yang sama pentingnya dengan mengobarkan semangat.

  1. Penyerang Suekarno

Bagaimana mungkin tidak memasukkan Sukarno? Itu kelewat mustahil. Dia bukan sosok agung yang tanpa cela, tapi peranannya keterlaluan jika diabaikan. Indonesia memang sebuah proyek bersama, dibangun, ditatah dan disungging oleh banyak nama. Tapi Sukarno-lah barangkali sosok yang paling bisa merepreresentasikan rakyat Indonesia di fase-fase genting 1945. Bukan semata karena dia selalu mengidentifikasikan dirinya dengan rakyat, tapi dia pula yang sebenarnya paling dikenal oleh rakyat Indonesia.

Tak ada yang popularitasnya menandingi SUkarno dan dia paham benar mengkonversi popularitasnya itu untuk menggebyah-uyah kobaran nasionalisme (sebagaimana seorang penyerang tajam tahu cara mengkonversi peluang menjadi gol). Jika Hatta adalah rem, Sukarno-lah yang menjadi pedal gas dari kobaran nasionalisme itu. Suekarno-lah bomber dari Kesebelasan Para Bapak Bangsa ini.

Artikel ini telah terbit di detik.com dengan judul : Kesebelasan Para Bapak Bangsa

 

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Print