Search
KATA TERKINI

Kebijakan Pengalihan Peserta JKN Dipertanyakan, Pemkot Samarinda Angkat Suara

Pesta Gol di Segiri! Borneo FC Bantai PSBS 5-1, Tekanan ke Persib Makin Panas

Disorot Publik, Seno Aji Tegaskan Anggaran Rumah Jabatan untuk Kepentingan Pelayanan

Agus Aras Tekankan Peran Keluarga Hadapi Tantangan Sosial Lewat Sosialisasi Perda

Agus Aras Tekankan Pentingnya Partisipasi Publik dalam Pengambilan Kebijakan Daerah

Kebijakan Pengalihan Peserta JKN Dipertanyakan, Pemkot Samarinda Angkat Suara

Pesta Gol di Segiri! Borneo FC Bantai PSBS 5-1, Tekanan ke Persib Makin Panas

Disorot Publik, Seno Aji Tegaskan Anggaran Rumah Jabatan untuk Kepentingan Pelayanan

Agus Aras Tekankan Peran Keluarga Hadapi Tantangan Sosial Lewat Sosialisasi Perda

Agus Aras Tekankan Pentingnya Partisipasi Publik dalam Pengambilan Kebijakan Daerah

Mata Anak Terancam, Dinkes Kaltim : Ayo Kurangi Gadget dan Rutin Periksa Kesehatan Mata

dr. Ika Gladies, Kepala Seksi Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim,
Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Print

PERKATA.IDSAMARINDA. Kesehatan mata anak-anak Kalimantan Timur (Kaltim) tengah menjadi perhatian serius. Hasil pemeriksaan kesehatan mata terbaru menunjukkan angka yang cukup mengkhawatirkan,  dari sekitar 450 orang yang diperiksa, sekitar 30 persen di antaranya adalah anak-anak usia sekolah yang mengalami gangguan refraksi, terutama mata minus.

Fakta ini disampaikan langsung oleh dr. Ika Gladies, Kepala Seksi Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim, yang menyoroti pentingnya edukasi dan tindakan nyata dalam menjaga kesehatan mata anak-anak.

“Banyak dari mereka yang sudah membutuhkan kacamata dengan minus di atas 2. Bahkan ada yang kami berikan kacamata dengan minus hingga 6. Artinya, tanpa alat bantu, mereka benar-benar kesulitan melihat. Ini bukan sekadar masalah penglihatan, tapi juga memengaruhi proses belajar mereka di sekolah,” ujar dr. Ika Gladies, Sabtu (21/6/2025).

Menurut dr. Ika Gladies, gangguan penglihatan ini bukan hanya disebabkan oleh faktor keturunan. Justru gaya hidup modern, terutama penggunaan gadget yang berlebihan memiliki andil besar dalam meningkatnya kasus mata minus (miopia) pada anak-anak. Ia menambahkan bahwa fenomena ini mulai meningkat drastis sejak masa pandemi COVID-19.

“Selama pandemi, anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, mengikuti sekolah daring, bermain game, atau menonton video di HP dan tablet. Kebiasaan ini memaksa mata mereka untuk terus bekerja dalam jarak dekat, tanpa disertai istirahat mata yang cukup. Akibatnya, otot mata menjadi lemah dan muncullah gangguan refraksi,” terangnya.

Gangguan refraksi bukan hanya sebatas miopia. dr. Ika Gladies menjelaskan bahwa ada anak-anak yang mengalami mata malas (amblyopia), dan ada pula yang memiliki otot mata yang sudah tidak mampu berakomodasi secara optimal karena kelelahan. Dalam kondisi ini, kacamata menjadi alat bantu penting, tapi bukan solusi jangka panjang.

“Kacamata hanya membantu agar anak tidak perlu ‘melotot’ untuk bisa melihat jelas. Tapi akar masalahnya tetap harus diatasi, yaitu pola penggunaan mata dan gadget yang tidak sehat,” tegasnya.

dr. Ika Gladies mengajak seluruh orang tua, guru, dan masyarakat untuk mulai peduli terhadap kesehatan mata anak-anak.

Berikut adalah beberapa imbauan penting :

1. Batasi Waktu Penggunaan Gadget.
Maksimal 30 menit sekali, berikan jeda istirahat.

Gunakan aturan “20-20-20”: Setiap 20 menit melihat layar, lihat objek sejauh 20 kaki (sekitar 6 meter) selama 20 detik.

2. Jangan Menggunakan Gadget Sambil Tiduran. Posisi ini memperburuk beban kerja otot mata.

3. Perbanyak Aktivitas Luar Ruangan. Paparan cahaya alami membantu memperlambat perkembangan miopia.

4. Konsumsi Makanan Bergizi. Sayur-sayuran hijau, buah-buahan yang kaya vitamin A, seperti wortel, bayam, dan pepaya, sangat baik untuk menjaga kesehatan retina.

5. Rutin Periksakan Mata Anak. Jangan tunggu anak mengeluh. Pemeriksaan rutin minimal setahun sekali penting untuk deteksi dini.

Dr. Ika Gladies menekankan bahwa mata yang sehat sangat penting bagi tumbuh kembang dan kualitas hidup anak. Ia mengajak semua pihak untuk mengambil peran dalam menjaga dan meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya kesehatan mata.

“Mata adalah jendela dunia. Jika anak-anak kita tidak bisa melihat dengan jelas, bagaimana mereka bisa belajar dan berkembang optimal? Mari kita bersama-sama jaga penglihatan anak-anak sejak dini. Ini tanggung jawab kita bersama,” pungkasnya. (Adv/diskominfo-kaltim/end)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Print